Menurut legenda turun temurun nama "Hanum" berasal dari kata Bahasa Sunda yaitu "Anom" dimana nama tersebut berasal dari Epik Ciung Wanara Dan Hariang Bangga yang berkembang di wilayah aliran Sungai Cijolang dan Citanduy, dimana pada Abad 8 wilayah hutan yang sekarang menjadi hulu Sungai Cihanum menjadi tempat pembuangan Dewi Pangrenyep yang merupakan istri yang muda dari Raja Galuh Permanadikusuma yang dibuang oleh Raja Sang Manarah setelah mengalahkan Hariang Bangga yang merupakan anak Dewi Pangrenyep dan Sang Manarah berhasil menjadi Raja Galuh.
Sebelum nama tempat ini seluruhnya dinamakan Hanum, sebelumnya sesuai dengan keadaan situs budaya di Gunung Dayeuhluhur tempat ini bernama Dayeuhluhur tetapi konon nama tersebut selanjutnya digunakan menjadi nama ibukota dari Kadipaten Dayeuhluhur pada Abad 15 sehingga kemudian nama Hanum menjadi nama seluruh wilayah ini.
Nama Hanum telah tertulis dengan jelas pada Serat Sunda Kuna Carita Parahyangan pada bagian peperangan Raja Pajajaran Surawisesa dengan Cirebon yang terjadi pada tahun 1528, dimana Hanum merupakan salah tempat yang diserang oleh Raja Pajajaran tersebut.
Nama Hanum sebagai sebuah tempat atau desa sampai saat ini diketahui sebagai satu-satunya di Pulau Jawa bahkan Nusantara.
Wilayah Desa Hanum yang pertama-tama ditempati penduduk secara menetap berdasarkan bekas-bekas pemukiman adalah di daerah sekitar Perbukitan Gunung Gadung dan Gerumbul Cimuncang kemudian menyebar ke tempat lainnya seiring jaman.
Nama-nama tokoh yang disebut dalam kisah legenda masyarakat Desa Hanum karena kontribusinya dalam keberlangsungan hidup masyarakat Desa Hanum diantaranya :
Ki Jembrak, Ki Serajaya, Ki Bontar, Ki Sadeng, Ki Indra, Ki Jangga Tasdik, Ki Jamanir, Kyai Tanpa Sara, Kyai Taklim, Ki Kertangali, Ki Gendot, Ki Kulisi Sumarya, Ki Jaya Manggala (minyak serai), Ki Juru Kunci Sanromi. Kehidupan tokoh-tokoh tersebut tertulis dalam Buku Sejarah Desa Hanum.
Menurut penelusuran sejarah, Hanum menjadi sebuah Pemerintahan Desa modern adalah di Era Hindia Belanda pasca Perang Diponegoro dan Pembubaran Kabupaten Daya Luhur yaitu pada era 1830-an yang selanjutnya menjadi bagian dari Wilayah Karsidenan Banyumas, Kabupaten Cilacap, Afdeling atau Kecamatan Dayeuhluhur.
Balai Desa Hanum sendiri pada awal berdiri berlokasi di hulu Sungai Cihanum di kawasan perbukitan Baledana dan selanjutnya beberapa kali berpindah lokasi. Batas-batas wilayah administrasi Desa Hanum diantaranya telah tertulis dalam Besluit van den Gouverneur General van Nederlansch Indie Van 23 September 1910 II 12. Berikut ini daftar nama yang diketahui pernah menjabat Kuwu atau Kepala Desa di Desa Hanum
Kuwu Leutik atau Kuwu Alit atau Kuwu Jamit (nama sebutan)
Kuwu Rawati (nama sebutan)
Kuwu Saridin (1930 –1940)
Kuwu Onder (1940 – 1950)
Kuwu Supardi Sura Sumita/ Kuwu Pardi (1950 – 1955)
Kuwu San Umar Sarjo/ Kuwu Hasan Umar (1955 – 1965)
Kuwu Jaya Karama - Pj
Kuwu Jasih atau Kuwu Wihatmi (1966 – 1973)
Kepala Desa Suwaryo - Pj (1974 – 1976)
Kepala Desa Sudaryo (1976 – 1990)
Kepala Desa S. Koharudin/ Kuwu Kohar (1990 – 1993)
Kepala Desa Kartono (1993 – 1996)
Pj. Kepala Desa Maskat (1996 – 1997)
Kepala Desa Tarmedi (1998 – 2007)
Pj. Kepala Desa Joni Sudarjo (2007)
Kepala Desa Drs. Ruswadianto / Kuwu Anto (2007 – 2013)
Kepala Desa Drs. Ruswadianto / Kuwu Anto (2013 – 2018)
Pj. Kepala Desa Arsim (2018)
Kepala Desa Drs. Ruswadianto / Kuwu Anto (2019 – sekarang)
Kedatangan Tentara Jepang
Perang Revolusi
Pemberontakan DI/TII
Peristiwa G 30 September / PKI
Bencana Angin Puting Beliung Februari 2018
Pandemi Covid-19 Tahun 2019
Desa Hanum merupakan salah satu desa di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, memilik luas 16,98 km2. Secara geografis Desa Hanum berbatasan dengan wilayah sebagai berikut :
Secara Administratif wilayah Desa Hanum terdiri dari 6 Dusun, 9 Rukun Warga dan 27 Rukun Tetangga. Sedangkan pembagian wilayah dusun diantaranya :
Dusun Sukaharja
Dusun Sudimampir
Dusun Ciloa
Dusun Rimpaknangsi
Dusun Cisagu
Dusun Sukanagara
Secara umum Tipologi Desa Hanum terdiri dari Persawahan, Perkebunan, Peternakan, Kerajinan dan Industri Kecil. Topografis Desa Hanum secara umum termasuk daerah berbukit bergelombang dan berdasarkan ketinggian wilayah Desa Hanum diklasifikasikan kepada dataran tinggi (>500 m dpl).
Desa Hanum memiliki potensi yang sangat besar, baik Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), serta kelembagaan/ organisasi. Sampai saat ini, potensi sumber daya yang ada belum secara maksimal dapat diberdayakan.
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
TOTAL
Kirim Komentar